Gianna Harus “Bohongi” Suami Setiap akan Pimpin Laga

Kiprah wasit tinju perempuan di Indonesia boleh dibilang jarang. Maklum, selain dari segi finansial tak menjanjikan, partisipasi kaum hawa di olahraga keras yang satu ini masih dipandang sebelah mata.

DIAR CANDRA, Jakarta

Suasana Studio 5 TVRI Pusat di Senayan setiap Sabtu malam selalu penuh sesak. Studio stasiun televisi pelat merah tersebut memang memiliki jadwal rutin menggelar pertandingan tinju setiap akhir pekan. Empat badan tinju profesional tanah air secara bergantian mengadakan event tersebut.

Namun, pada edisi Maret ini, ada yang spesial. Bukan dari petinju yang bertanding, melainkan ofisial pertandingan. Yakni, penggunaan hakim tinju perempuan di acara tinju bertajuk Rock and Round tersebut.

“Saya sebenarnya punya dua lisensi. Lisensi hakim dan wasit tinju. Kali ini kebetulan yang dibutuhkan keahlian saya sebagai hakim,” tutur Gianna Elizabeth Seleky, pekan lalu.

Sebagai wasit dan hakim tinju, perempuan yang akrab dipanggil Gina tersebut memiliki sertifikat nasional dari Asosiasi Tinju Indonesia (ATI). Lisensi itu didapatnya pada 2011.

Gina menuturkan, “darah tinju” memang mengalir di tubuhnya. Sang ayah, (alm) Micky Seleky, adalah petinju nasional era 70-an. Setelah pensiun, Micky juga menjadi pelatih petinju top Indonesia Ellyas Pical pada era 80-an.

“Waktu itu saya sering lihat papa melatih para petinjunya di Tebet (Jakarta). Sasana papa saat itu Garuda Jaya BC. Tiap hari menonton petinju latihan, lama-lama saya jatuh cinta pada tinju. Akhirnya saya menekuni tinju juga,” ucap ibu satu anak tersebut.

Putri pasangan Micky dan Maryke Seleky tersebut tak pernah ragu untuk menggeluti tinju. Sejak usia belasan Gina menempa diri. Jalan karir yang dipilih Gina pun sedikit berbeda dengan petinju kebanyakan. Kalau umumnya terjun di tinju amatir baru ke profesional, yang dilakukan Gina sebaliknya. Yakni, terjun ke profesional dulu, baru pindah ke amatir.

Pada 2001 Gina menjalani pertarungan perdana sebagai petinju profesional perempuan. Meski sempat grogi, dia sukses memenangi pertarungan dengan angka mutlak. Karena minimnya perhelatan tinju profesional, hingga 2004 istri Godlies Manusiwa itu hanya bertanding tiga kali. Hasilnya, menang dua kali dan kalah sekali.

“Dunia pro bagi petinju perempuan memang kejam. Kalau naik ring banyak yang nyuitin. Padahal, kita bisa bertarung dengan keras dan seperti petinju pria,” tutur Gina.

Selain itu, apresiasi kepada petinju perempuan masih kecil. “Nasibnya memprihatinkan, bahkan sampai sekarang tidak ada perubahan,” lanjut dia.

Setelah 2004 banting setir ke tinju amatir, Gina malah menikmati statusnya. Misalnya, dia mendapat kesempatan untuk bertanding lebih sering. Tapi, itu tidak lama. Dua tahun kemudian dia memutuskan untuk pensiun.

Gina benar-benar berhenti bertinju setelah hamil pada 2006. Selain suami tak mengizinkan masuk ring, perempuan berusia 34 tahun itu sadar soal kesehatan pribadinya.

Setelah melahirkan putri satu-satunya, Gabriella Manusiwa, Gina berhenti total dari dunia tinju. Kalaupun ada kegiatan yang berhubungan dengan olahraga adu jotos itu, Gina hanya menonton pertandingan tinju lewat layar televisi.

Ketika anaknya mulai beranjak besar, pada 2011 Gina mulai punya waktu luang. Gina pun memutuskan untuk kembali ke dunia tinju. Bukan sebagai atlet, melainkan hakim tinju.

“Saya kayaknya tak bisa jauh dari tinju. Satu-satunya cara supaya tetap bisa dekat tinju ya jadi wasit atau hakim,” tutur Gina.

Memulai proses baru sebagai hakim tinju, banyak cibiran yang didapatkan. Banyak yang mengernyitkan alis saat Gina mengambil sertifikasi hakim tinju pada akhir 2011. Buat Gina, cibiran orang malah dijadikan motivasi.

Setelah memiliki sertifikat hakim, Gina melanjutkan mencari lisensi wasit. Kesempatan pertama menjadi hakim datang pada 2012. Tapi, aktivitas baru Gina itu ditentang sang suami. “Suami nggak setuju saya turun di ring lagi meski jadi hakim atau wasit. Suami kan bukan orang tinju. Jadinya agak protektif. Dia mengkhawatirkan saya,” papar Gina.

Belajar dari pengalaman itu, Gina tak lagi bilang ke suami seandainya ada tugas dari badan tinju untuk menjadi hakim atau wasit pertandingan. Gina biasanya pamit untuk kerja lembur pada suami. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai supervisor sebuah kafe di daerah Kalibata, Jakarta Selatan, tersebut memang kerap bekerja hingga larut malam.

Sejak tahun lalu menjadi wasit atau hakim tinju, Gina sudah sepuluh kali mengemban tugas “berat” di dalam ring tinju profesional itu. Perinciannya, delapan kali menjadi hakim dan dua kali bertugas sebagai wasit.

“Lebih mendebarkan menjadi wasit. Saya berada di antara dua petinju yang saling melancarkan pukulan. Untung, dari dua kali naik ring, saya bisa meminimalkan kesalahan,” ujar Gina.

Oktober tahun lalu di Studio TVRI Pusat Gina kali pertama menjadi wasit pertarungan. Yang kedua Desember lalu, saat ulang tahun korps Marinir di Cilandak, Jakarta.

Bayaran yang diterima sebagai wasit atau hakim tinju di Indonesia, kata Gina, masih jauh dari harapan. Menanggung risiko “nyawa” dua manusia, honor yang diterima Gina di bawah Rp 1 juta. Namun, mengenai detail upah, perempuan kelahiran Bandung tersebut ogah bercerita. “

Ke depan Gina berharap agar ada lebih banyak lagi wasit atau hakim tinju perempuan di Indonesia. Itu merupakan bagian dari emansipasi perempuan di berbagai bidang.

“Saya punya mimpi bisa memimpin satu laga tinju internasional suatu saat nanti,” tandas Gina.(*/c10/ari/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.