Sisihkan Atlet Senior, Risman Kaget Bisa Dulang Emas dari Paralayang

SUMEDANG, SNOL Pundi-pundi medali kontingen Banten di ajang PON XIX bertambah. Satu medali emas berhasil dipersembahkan cabang Paralayang. Cabang olahraga Drum Band memberikan satu perunggu, begitu juga dengan Aeromodeling.

Medali emas cabang olahraga Paralayang dipersembahkan Risman Supriadi dari nomor Ketepatan Mendarat Perorangan. Lomba ketepatan mendarat berlangsung selama tiga hari di Bukit Toga, Sumedang, Jawa Barat, Kamis hingga Sabtu (15-17/9).

Setiap hari masing masing penerjun mendapatkan kesempatan empat kali terjun payung. Penentuan juara dilakukan pada hari terakhir.

Persaingan memperebutkan medali emas berlangsung menegangkan. Kejar-mengejar poin berlangsung ketat mulai dari sorty sembilan. Risman yang bertengger di posisi teratas dengan poin 22 hanya mendapat tekanan dari tiga atlet Jabar yang menduduki posisi kedua, ketiga, dan keempat.

Setelah dinyatakan menjadi juara, Risman tidak mampu menutupi rasa haru dan gembiranya. Ia bersyukur bisa mempersembahkan medali emas bagi kontingen Banten.

“Seperti mimpi karena pesaing saya adalah atlet-atlet hebat. Ini sangat luar biasa dan ini semua berkat kerja keras kami semua. Medali emas ini saya persembahkan untuk kedua orangtua yang mendukung dan terus mendoakan saya dan tentunya untuk seluruh masyarakat Banten,” katanya terbata-bata, Sabtu (17/9) sore.

Ia mengungkapkan, sempat tegang saat akan melakukan lepas landas di sorty 12. “Tegang banget bang. Soalnya poin kami beda tipis. Kalau sedikit saja saya melakukan kesalahan, medali emas pasti melayang. Tapi saya berusaha tetap fokus, rileks, dan yakin. Alhamdulillah bisa mendarat dengan baik,” imbuh Risman.

Ya. Medali emas yang diraih Risman memang mengejutkan banyak pihak. Sebab, dia mengalahkan kepungan atlet senior yang sudah malang melintang di berbagai kejuaraaan internasional.

Seperti empat atlet Jawa Timur (Jatim) yang diketahui merupakan penghuni pemusatan pelatihan nasional (pelatnas) dan juara dunia paralayang 2016, yakni Permadi Chandra Bhuana, Jafro Megawanto, Jhoni Efendi, dan Roni Pratama.

Selain empat atlet Jatim, Risman juga mampu mematahkan dominasi empat atlet tuan rumah Jabar yang diperkuat mantan juara dunia paralayang 2015, yakni Dede Nisbah dan tiga atlet penghuni pelatnas Purnomo Alamsyah, Nanang Suryana, dan Darumaka Rajasa. Selain itu Risman juga mampu menyingkirkan atlet berkaliber internasional dari Kalimantan Timur, Lis Andriana yang pernah mewakili Indonesia di ajang olimpiade paralayang 2016.

Pada olahraga paralayang, pemenang ditentukan dari atlet yang meraih poin terkecil dalam melakukan pendaratan di pad (titik target). Risman menggondol medali emas setelah sukses meraih poin terkecil, yakni 33 poin dari 12 sorty (ronde). Medali perak menjadi milik Purnama Alamsyah (Jabar) dengan meraih poin 40 dan medali perunggu juga menjadi milik Jabar, yakni Nanang Sunarya yang meraih poin 43. Sedangkan empat atlet andalan Jatim tercecer di peringkat keempat hingga keenam dan ke-16.

Perlombaan hari terakhir nomor Ketepatan Mendarat disaksikan langsung Ketua Umum KONI Banten Rumiah Kartoredjo, Wakil Ketua I KONI Banten Engkos Kosasih, Komandan Satgas PON AKBP Agus Rasyid, Ketua Pengprov FASI Banten Kapten (Lek) I Ketut Karda dan jajaran pengurus KONI Banten.

Manajer Paralayang PON Banten AKP Areng terlihat tak mampu membendung rasa haru. Dengan terbata-bata seraya sesekali menyeka air matanya mengaku hasil tersebut berkat ridho Allah SWT. “Syukur Alhamdulillah, ini (medali emas-red) karena ridho allah. Kami hanya berjuang dan berusaha, yang menentukan hasilnya adalah Allah,” ucapnya.

Ketua KONI Banten Rumiah Kartoredjo yang juga tampak haru juga bersyukur atas medali emas cabor paralayang. “Ini bukti kerja keras dan perjuangan maksimal atlet paralayang. Saya berharap cabor lain mengikuti jejak paralayang dan drum band yang lebih dulu telah mempersembahkan dua keping medali emas dan sekeping perunggu. Banten Cemerlang menunggu medali emas untuk dibawa pulang ke Tanah Jawara,” katanya.

Sementara itu, untuk nomor KTM beregu, medali emas menjadi milik tuan rumah Jabar (119 poin), sedangkan medali perak diraih tim Jawa Timur (194 poin), dan medali perunggu jatuh kepada tim JawaTengah (616 poin).

Tim paralayang PON Banten masih berpeluang menambah pundi-pundi medali lantaran cabor paralayang masih menyisakan tiga nomor (enam kelas/enam medali emas) yang akan dipertandingkan. Yakni nomor crosscountry (perorangan dan beregu), race to goal (perorangan dan beregu), dan nomor tandem (perorangan dan beregu).

Dari arena Aeromodeling, medali perunggu disumbangkan Febri Maulana pada nomor outdoor hand launched glider (OHLG), Minggu (18/9). Dalam perlombaan yang berlangsung di Lanud Sulaiman Soreang, Bandung, pesawat yang dikendalikan Febri sempat menghantam pohon sebanyak 2 kali. Ditemui usai pertandingan Manager Aeromedling Budi Santosa mengatakan, faktor thermal menjadi salah satu kendala disamping cuaca yang kurang bersahabat.
“Ada faktor thermal yang masih menjadi kendala dan cuaca mengingat 2 pesawat terbang namun ketika akan landing atau turun malah nyangkut di pohon. Padahal beberapa detik lagi namun kami bersyukur hasil torehan ini karena anak-anak sudah berusaha maksimal,”katanya.
Dalam kesempatan yang sama Febri Maulana mengaku bersyukur atas perolehan medali perunggu mengingat lawan yang dihadapi juga cukup ketat. “Bersyukur aja, karena persaingan memang sengit,“ ucapnya. (gatot/dm/satelitnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.